Rabu, 10 November 2010

Memilih Buku Bacaan Yang Tepat Untuk Anak-Anak


MEMILIH BUKU BACAAN YANG TEPAT UNTUK ANAK
Dalam memilih buku bacaan untuk anak-anak, memang bukan hal yang  mudah, kita harus berpikir bijak dan kreatif. Kita sebagai orang tua tidak boleh memaksakan kehendak dalam pilihan bacaan untuk mereka. Kita harus bisa menghargai pilihan anak dan minat anak dalam memilih bacaan. Orang tua tidak boleh  memilih bacaan yang terlalu sulit, dan sebaliknya tidak boleh memilih buku bacaan yang terlalu mudah. Para orang tua harus mlihat dan mengetahui karakter dan minat baca anak-anaknya, agar tidak salah dalam memilih buku bacaan yang sesuai. Karena, bacaan yang tidak sesuai dengan minat baca anak bisa berakibat menurunnya minat baca anak-anak.  Sebagai orang tua, kita tidak perlu khawatir melihat pilihan bacaan anak-anak terlalu mudah atau sempit, karena langkah awal yang harus kita lakukan untuk merangsang minat baca anak-anak adalah anak mau membaca dan menyukai membaca. Biasanya anak-anak menyukai buku-buku yang penuh warna  dan banyak gambar,  asalkan buku tersebut pantas dan sesuai untuk anak-anak seusianya, maka tidak ada salahnya anda mengikuti minat bacaan anak tersebut, dan anda terus mendampingi dalam pemilihan buku-buku bacaannya.  Karena, minat baca anak akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan rangsangan daya pikirnya. Selanjutnya, sebagai orang tua, kita selalu menciptakan lingkungan budaya baca dalam keluarga dan terus mendukung minat baca anak-anak yang sudah ada.    

Kamis, 04 November 2010

SOSIAL SKILL (KETRAMPILAN SOSIAL) PUSTAKAWAN


SOSIAL SKILL (KETRAMPILAN SOSIAL) PUSTAKAWAN
Suatu riset hasil jejak pendapat tentang minat baca yang pernah dilakukan Kompas (14/2/2009) menunjukkan dari total responden yang diambil secara sistematis dari beberapa kota besar seperti Semarang, Solo, Purwokerto dan Tegal sebanyak 75,5% mengaku tidak pernah berkunjung ke perpustakaan.[1] Rendahnya intensitas kunjungan ke perpustakaan menunjukkan masih rendah tingkat minat baca masyarakat. Padahal pemerintah telah menyatakan bahwa angka melek aksara masyarakat Indonesia telah mencapai angka 90 persen.[2]
Yang lebih mencengangkan lagi, alasan masyarakat enggan berkunjung dan memanfaatkan perpustakaan adalah karena sikap para staf dan pustakawan yang dinilai kurang bersahabat. Padahal, menurut UU Perpustakaan Nomor 43 Tahun2007 pasal 31, tenaga perpustakaan berkewajiban: a)  memberikan layanan prima terhadap pemustaka, b) menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif, dan c) memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya.[3]
Menurut penilaian masyarakat, rata-rata pustakawan bermuka masam, jutek, saat melayani pengunjung tidak menunjukkan antusiasme yang tinggi, cenderung bermalas-malasan, kebanyakan mereka bergerombol  disudut ruangan dan ngerumpi, dan ketika pengunjung bertanya tentang koleksi yang dibutuhkan, jawaban yang sering muncul adalah:”silahkan cari sendiri, atau mungkin koleksi sedang dipinjam, dan lain-lain dengan tidak berusaha mencari solusi yang tepat.”[4] Hal ini tentu saja tidak terjadi pada semua perpustakaan, tapi masih terjadi pada banyak perpustakaan.
Kenyataan demikian merupakan tantangan bagi pustakawan untuk bisa menjadi lebih baik dengan kompetensi-kompetensi yang handal yang diharapkan masyarakat. Disini,  sosial skill atau ketrampilan sosial sangat dibutuhkan dan harus dimiliki oleh seorang pustawakan, mengingat pustakawan adalah makhluk sosial yang akan selalu berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga pustakawan tidak hanya dapat  melayani masyarakat memenuhi kebutuhan informasi, tapi pustakawan dapat menjadi provider, sumber informasi bagi masyarakat. Ketrampilan sosial sangat penting bagi pustakawan, karena kemajemukan dan keragaman masyarakat sekitar dengan kebutuhan informasi yang beragam  yang harus dihadapi oleh pustakawan.
Ketrampilan sosial adalah kemampuan seseorang untuk mengelola emosi yang berhubungan dengan orang lain, baik individu atau kelompok, sehingga dapat terjalin suatu interaksi sosial dan komunikasi yang baik dan efektif. Menurut Suherman, kualitas dan ketrampilan mendasar yang diharapkan dari seorang pustakawan dalam hal ketrampilan sosial adalah:[5]
a.       Kemampuan berkomunikasi secara positif dan efektif.
Seorang pustakawan diharapkan dapat menguasai tehnik komunikasi sederhana, tapi efektif, yang akan menimbulkan sikap saling pengertian dan saling menuntungkan (simbiosis mutualisme) antara kedua belah pihak, pustakawan dan pemustaka. Kunci komunikasi efektif adalah mencoba mengerti dan melakukan tindakan yang bisa memberikan kepuasan keinginan pemakai perpustakaan, dengan demikian dapat menambah jumlah pemustaka yang datang.[6]
b.      Kemampuan memahami kebutuhan pemustaka
Puskawan diharapkan cepat tanggap dalam merespon pertanyaan tentang informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka, dapat memberikan penelusuran informasi yang dibutuhkan dengan cepat dan tepat, mampu membedakan antara hal yang penting dan tidak penting tentang informasi. Beliau juga tidak pernah mengalami kesulitan dengan para pengguna yang terlibat wawancara di bagian referensi, dia hanya membutuhkan waktu untuk menjelaskan beberapa informasi dan langsung menunjukkan sumber informasi yang terbaik untuk pemustaka.[7]
c.       Kemampuan bekerja sama dengan perorangan, kelompok atau dengan lembaga lain
Hendaknya seorang pustakawan bisa menjadi jembatan kerja sama antara perpustakaan dengan lembaga-lembaga lain ataupun dengan kerjasama dengan perorangan atau kelompok, misalnya kerja sama dengan penulis, penerbit ataupun perusahaan.
d.      Memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai keanekaragaman budaya
Dengan adanya pengetahuan dan pemahaman keanekaragaman budaya, pustakawan akan dapat memberikan pelayanan yang baik pada pemustaka yang datang dari mana saja, dengan budaya bagaimanapun.  Misalnya bagaimana pustakawan menghadapi orang jawa yang biasa sopan, orang sunda yang biasa lembut, orang batak atau madura yang biasa keras. Fleksibel adalah karakteristik pokok pustakawan. Ini semua dilakukan untuk memberikan kepuasan kepada para pemustaka atau siapa saja yang datang ke perpustakaan.[8]
Kemudian Lasa Hs menambahkan:
e.       Mampu segera berinteraksi dengan lancar
Pustakawan dan user adalah makhluk sosial yang akan selalu terjalin interaksi sosial. Supaya interaksi sosial itu dapat berjalan lancar, maka pustakawan dalam menjalin hubungan interaksi itu harus selalu mengingat lima prinsip, yaitu: Berasumsi bahwa semua orang itu baik, menganggap wajar apabila terjadi perbedaan pendapat, memberikan respek atau empati pada orang lain, hubungan berorientasi saling membutuhkan, dan mau menerima kekurangan orang lain serta mengakui kekurangan diri sendiri.[9]
f.       Mampu kreatif dan inovatif dalam promosi perpustakaan
Seorang pustakawan harus memahami pemasaran perpustakaan, sehingga perpustakaan berada di jantung hati pemustaka. Kreatifitas adalah kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menemukan peluang. Inovasi adalah kemampuan menerapkan kreatifitas dalam rangka memecahkan masalah dan menemukan peluang.[10]
Menurut Purbayu Budi Santoso (2004) performa kreatif dan inovatif hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa kewirausahaan, dengan ciri-ciri: Pertama, penuh percaya diri, indikatornya penuh keyakinan, optimis, berkomitmen, disiplin dan bertanggungjawab. Kedua: memiliki inisiatif, indikatornya adalah penuh energi, cekatan dalam bertindak dan aktif. Ketiga:memiliki motif berprestasi, indikatornya adalah berorientasi pada hasil dan wawasan ke depan. Keempat: memiliki jiwa kepemimpinan, indikatornya adalah berani, tampil beda, dapat dipercaya dan tangguh dalam bertindak. Kelima: berani mengambil resiko dengan penuh perhitungan dan menyukai tantangan.[11]
g.      Mampu menggunakan kemampuan diplomasi untuk mempengaruhi, mengarahkan dan memimpin orang lain
Pustakawan hendaknya mampu dalam memberikan penyuluhan tentang perpustakaan, berbicara sebagai narasumber dalam seminar-seminar, mampu menggerakaan masyarakat dalam budaya baca, dan bisa bertindak sebagai asisten pendidik atau agen pembelajar masyarakat.

Dengan kemampuan dan ketrampilan sosial (social skill) yang dimiliki, pustakawan akan dapat berperan sebagai provider, sumber informasi bagi masyarakat. Sikap dan perhatian pustakawan akan melekat dihati masyarakat, sehingga masyarakat akan termotivasi untuk berkunjung dan mancari informasi di perpustakaan. Dengan demikian, minat baca atau budaya baca akan dapat berkembang baik dilingkungan masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad (Pustakawan Madya ITS). ditulis oleh Agus Sugio Pranoto, Literasi Informasi: Ketrampilan Penting di Era Global, http://library.its.ac.id/news/120/ARTICLE/1072/2009-10-14.html.  didownload pada hari Rabu, tanggal 27 Januari 2010 jam 13.00 siang.
Jas, Walneg S.  Siapa Bilang Membina Hubungan Yang Baik Itu Susah, cet ke-1, Jakarta: Murai Kencana, 2009.

M. Irkham, Agus. Pustakawan 2010: Gaul, Trendi dan Ahli. http://kubukubuku.blogspot.com/2009/10/pustakawan-2010-gaul-trendi-dan-ahli-html, Didownload pada hari Rabu, tanggal 27 Januari 2010 jam 13.00 siang.
Suherman. Perpustakaan Sebagai Jntung Sekolah, Referensi pengelolaan perpustakaan sekolah. Cet k-1, Bandung: MQS Publishing, 2009.

Qalyubi, Shihabuddin dkk. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi.  Cet ke-2, Yogyakarta: Fak. Adab UIN Sunan Kalijaga, 2007.

Caputo, Janeta S. The assertive Librarian, Canada: Oryc Press, 1984.
Herimanto,  Winarno. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Cet ke-2, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007, Yogyakarta: Graha Ilmu, tt.

Sudarmini, Euis. Mansjur, Surya. Pemasaran Jasa Perpustakaan dan Informasi dalam jurnal Perpustakaan Pertanian, Vol 10 No. 1, Januari 2001, Bogor: Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Tahnologi Pertanian, 2001.

Khoiruddin Nasution, Smart dan Sukses Dengan Membangun Karakter Lewat Pembiasaan dan Dengan Tekad Berubah, Cet ke-1, Yogyakarta: ACAdeMIA & TazzaFA, 2008.

Suryadi, Didih. Promosi Efektif, Menggugah Minat & Loyalitas Pelanggan. Cet ke-1. Yogyakarta: Tugu, 2006.





[1]AgusM. Irkham, Pustakawan 2010: Gaul, Trendi dan Ahli, http://kubukubuku.blogspot.com/2009/10/pustakawan-2010-gaul-trendi-dan-ahli-html, hlm. 1
[2]Ibid
[3]Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007, (Yogyakarta: Graha Ilmu, tt), hlm. 5.
[4]Agus M. Irkam, hlm.1.
[5]Suherman, Perpustakaan Sebagai Jntung Sekolah, Referensi pengelolaan perpustakaan sekolah, cet k-1, (Bandung: MQS Publishing, 2009), hlm.34-35.
[6]Sihabudin Qalyubi dkk, Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, cet ke-2, (Yogyakarta: Fak. Adab UIN Sunan Kalijaga, 2007), hlm.248-249.
[7]Janeta S Caputo, The assertive Librarian, (Canada: Oryc Press, 1984)
[8]Ibid
[9]Walneg S. Jas, Siapa Bilang Membina Hubungan Yang Baik Itu Susah, cet ke-1, (Jakarta: Murai Kencana, 2009), hlm. 35-75.
[10]AgusM.Irkham, Pustakawan 2010: Gaul, Trendi dan Ahli, http://kubukubuku.blogspot.com/2009/10/pustakawan-2010-gaul-trendi-dan-ahli-html, hlm. 5.
[11]Ibid, hlm. 5.

PARTNERTSHIP IN LIBRARIANSHIP Strategi Pengembangan dan Pemasaran Perpustakaan


PARTNERTSHIP IN LIBRARIANSHIP
Strategi Pengembangan dan Pemasaran Perpustakaan


  1. Pendahuluan

Perpustakaan yang ideal adalah perpustakaan yang memenuhi pedoman-pedoman yang telah ditentukan, diantaranya lokasi, tata ruang, administrasi, pelayanan terhadap anggotanya dan koleksi-koleksi buku-buku perpustakaan. Suatu perpustakaan dikatakan ideal apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:[1]
  1. Berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan jenisnya.
  2. Selalu meningkatkan mutu melaui pelatihan-pelatihan bagi tenaga pustakawan.
  3. Melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerja sama baik dalam maupun luar negeri.
  4. Melakukan upaya-upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan terus-menerus dari segi menejemen dan teknis operasional.

Untuk saat sekarang, perpustakaan harus unjuk gigi dan berani tampil beda, tidak hanya konsentrasi pada pelayanan sirkulasi saja. Perpustakaan harus berani menampilkan beberapa terobosan-terobosan baru dalam upaya pengembangan dan pemasaran perpustakaan, diantaranya adalah dengan menyelanggarakan jaringan kerjasama atau kemitraan dalam keperpustakawanan, seperti dijelaskan diatas sebagai syarat suatu perpustakaan yang ideal.  Perpustakaan dan pustakawan harus mempunyai agenda, hendak kemana dan bagaimana perpustakaan dan pustakawan melangkah.
Untuk saat sekarang yang perlu diperhatikan oleh perpustakaan adalah peluang untuk perubahan baik pustakawan maupun perpustakaan. Perluasaan cakrawala keperpustakaan baik mengenai fungsi, misalnya seperti fungsi sirkulasi yang dulu hanya sebagai peminjaman dan pengembalian saja, untuk saat sekarang fungsinya bisa lebih siperluas lagi, yaitu bisa difungsikan sebagai tempat diskusi , cafĂ© (sangat strategis bagi yang memerlukaan makan dan kantin jauh, sedangkan dia harus kembali melanjutkan aktifitas diperpustakaan), internet dan lain sebagainya. Perluasan dalam perpustakaan lainya adalah  penggunaan Tehnologi Informasi, akses data melaui internet, web dan lain sebagainya.  Hal ini bukan hanya perluasan cakrawala untuk perpustakaan, tapi untuk pustakawan juga, misalnya pustakawan dilatih dalam penggunaan Tehnologi Informasi sehingga bisa memberikan layanan secara maksimal. Pemberdayaan leadership, misalnya dengan pelatihan dan mengundang pembicara dari luar yang kompeten dalam bidang perpustakaan. Juga perluasan dalam kerjasama, misalnya membentuk kemitraan dengan publisher, penulis buku, seniman dan  lain sebagainya.

  1. Partnership in Librarianship
1. Pengertian
Partnership adalah perserikatan, persekutuan, kemitraan.[2] Sedangkan Partnertship in Librarianship  adalah kemitraan atau kerjasama keperpustakaan. Kerjasama ini bisa dilakukan antar perpustakaan ataupun dengan lembaga-lembaga  selain perpustakaan. Yang sudah sering dilakukan adalah kerjasama antar perpustakaan satu dengan perpustakaan lainnya, dan sebagai pengembangnnya suatu perpustakaan bisa bekerja sama dengan siapa saja, asalkan bisa saling memberikan kontribusi pasa masing-masing dan yang utama adalah bisa untuk mengembangkan sayap perpustakaan dalam beberapa hal, misalnya dianggap sebagai promosi dan pemasaran perpustakaan ataupun bisa memberikan incam bagi perpustakaan.
Dalam dunia bisnis, Kemitraan adalah salah satu cara yang paling cepat dan paling murah untuk mengembangkan strategi global. Kemitraan dan aliansi strategis global membuka kesempatan bagi setiap perusahaan untuk memperluas usaha secara global. Kekurangan modal atau tidak adanya keahlian bukan alasan untuk berdiam diri dinegara sendiri dan hanya berharap agar globalisasi ekonomi dunia tidak membahayakan posisi anda dipasar sendiri. Karena, berdiam diri dan berharap agar semua baik-baik saja merupakan awal masalah. Apabila kita sedang dalam posisi global atau mengalami globalisasi atau terdapat potensi untuk menjadi global, kita harus proaktif menerapkan strategi global kita sendiri atau kita akan ditinggalkan, disisihkan oleh pesaing yang akan mengalahkan kita.
Begitu pula dengan perpustakaan, apabila kita hanya berdiam diri dengan tidak mengikuti perkembangan- perkembangan yang ada, hanya menunggu pemustaka dating (ada pemustaka dating berarti ada pekerjaan dan tidak ada pemustaka berarti tidak ada kerja), maka perpustakaan akan jauh tertinggal dan ditinggalkan pemustaka. Pemustaka tentunya akan memilih perpustaakaan-perpustakaan yang lebih lengkap dan layak dan mempunyai gaung yang bagus, sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan informasi masyarakat. Untuk itu  perpustakaan dituntut dan harus proaktif setiap saat dengan melihat trend yang ada dan melihat perkembangan kebutuhan masyarakat.
Ada dua alasan dasar mengapa suatu perusahaan mengadakan kerjasama atau kemitraan. Alasan yang pertama adalah untuk mengatasi tantangan suatu memasuki dan memperluas usaha dalam lingkungan yang kompleks, penuh gejolak adan sering kali tidak dapat diramalkan. Kerjasama ini merupakan suatu cara untuk memperoleh ketrampilan, sumber daya, dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengatasi itu semua,  dan kebiasaan lokal amat menentukan kesuksesan bisnis. Alasan yang kedua adalah kesempatan untuk meningkatkan kecepatan pengembalian modal, terutama bagi perusahaan kecil . Dengan membatasi modal untuk divisi-divisi investasi manifaktur, maka manajemen korporasi memaksa divisi-divisi untuk mengembangkan kemitraan kreatif dalam memproduksi barang pasokan untuk pasar yang sedang berkembang.[3]
Suatu kemitraan, kalau direncanakan dengan baik, dapat memberikan manfaat bagi sebuah perusahaan, terutama perusahaan kecil sampai menengah yang perlu mengembangkan landasan persaingannya. Manfaat itu dapat mencakup:[4]
  1. Peningkatan akses pelanggan (dalam perpustakaan pemustaka).
  2. Pengembangan citra pasar dan kredibilitas berkat hubungan-hubungan yang sesuai dengan pemain-pemain yang telah berhasil.
  3. Akses tehnologi yang berharga.
  4. Akses modal yang dibutuhkan.
  5. Resiko yang ditanggung bersama dalam penelitian dan pengembangan investasi. Akses pengetahuan wiraswasta dalam sebuah industri tertentu.
  6. Penggunaan bersama infrastruktur umum, seperti manifakturing, distribusi atau pergudangan.
  7. Menghindari rintangan-rintangan politik dengan menyatukan perusahaan-perusahaan yang telah matang.

Suatu hal yang perlu dicoba dalam dunia perpustakaan dengan belajar dan melihat praktek dunia bisnis dan perusahaan, apabila suatu perpustakaan berfikir untuk maju dan berkembang. Hal ini juga bisa dikembangkan untuk pemasaran dan promosi perpustakaan karena  tidak menutup kemungkinan perpustakaan melangkah kedua bisnis.

3. Kemitraan dalam Keperpustakaan
a. Kerjasama antar perpustakaan
Kerjasama antar perpustakaan artinya kerjasama yang melibatkan dua perpustakaan atau lebih, baik antar perpustakaan didalam ataupun luar negeri. Kerja sama ini diperlukan karena tidak ada satu perpustakaan pun yang sempurna dalam kelengkapan koleksi. Faktor  yang mendorng adanya kerja sama ini adalah adanya peningkatan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, meluasnya kegiatan pendidikan, adanya kemajuan tehnologi terutama tehnologi informasi, tuntutan masyarakat untuk memperoleh layanan informasi yang sama, dan kerja sama bisa menungkinkan penghematan fasilitas, biaya, tenaga dan waktu. Hal ini amat mendesak bagi Negara berkembang seperti Indonesia dengan keterbatasan dana bagi pengembangan perpustakaan.[5]
Kerja sama ini bisa dalam hal kerja sama pengadaan, pemusatan pengadaan dan penyimpanan, kerja sama pertukaran dan redistribusi, kerja sama pengolahan, penyediaan fasilitas, peminjaman antar perpustakaan, kerja sama antar pustakawan, penyusunan katalog induk, dan kerjasama pemberian jasa informasi.[6]

b. Kerjasama dengan publisher atau penerbit
      Perpustakaan bisa membangun kemitraan dengan penerbit misalnya dalam pemesanan buku-buku koleksi terbaru penerbit-penerbit tertentu untuk melengkapi koleksi diperpustakaan. Dalam hal ini perpustakaan bisa mendapatkan harga yang serendah mungkin dengan mendapat buku-buku yang berkualitas dan penerbitpun bisa mendapatkan keuntungan materi, juga keuntungan lainnya misalnya hasil terbitannya bisa dikenal dan dibaca oleh masyarakat luas. Apalagi kalau kerja sama ini dikembangkan lagi misalnya dengan membuat event-event, misalnya pameran buku, bedah buku, seminar atau pelatihan-pelatihan. Perpustakaan hanya menyediakan tempat dan untuk hal biaya materi penerbit yang menanggung, dan misalnya peserta di wajibkan untuk membeli buku yang dimaksud atau yang dibedah, maka keuntungan tersebut bisa dibagi utnuk perpustakaan dan penerbit itu sendiri.

c. Kerjasama dengan seniman atau artis
Perpustakaan bisa saja bermitra seniman atau artis, misalnya untuk diundang sebagai pembicara seminar Anti HIV dengan mengundang Duta artis Anti HIV, juga bisa mengundang Artis duta Baca Tantowi Yahya, untuk mengajak dan membangun budaya baca pada masyarakat dan lain-lain. Pepustakaan  juga bisa mengundang seniman dari ranah teater sebagai pembicara dalam  pelatihan teater yang diadakan perpustakaan dan lain sebagainya. Dalam hal ini, yang diperoleh perpustakaan, selain pengembangan dalam kegiatan, bisa berfungsi juga sebagai sarana promosi dan pemasaran, sehingga perpustakaan bisa lebih dikenal lagi oleh masyarakat.

d. Kerjasama dengan penulis buku
Penulis buku adalah orang yang sangat berkaitan dengan perpustakaan. Tanpa penulis, tidak ada buku-buku atau hasil karya yang dapat dikoleksi perpustakaan. Suatu perpustakaan mengoleksi hasil karya penulis, maka harus mengenal penulisnya juga, “tak kenal maka tak saying”. Kemitraan yang bisa dibangun perpustakaan dengan penulis buku misalnya adalah dengan mengadakan bedah buku hasil karyanya, seminar, dan lain-lain.  

e. Kerjasama dengan perusahaan-perusahaan
Tidak menutup kemungkinan, suatu perpustakaan bisa menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan, misalnya dalam event-event tertentu, contohnya perpustakaan mengadakan lomba jalan santai dengan di sponsori oleh peusahaan air mineral atau peusahaan susu. Bisa juga mengadakan lomba-lomba ilmu pengetahuan , seperti lompa pidata berbahasa inggris, lomba cerdas tangkas, lomba karya ilmiah dan lain-lain. Perpustakaan bisa bekerja sama dengan misalnya PT. Matahari, Indomaret, atau perusahaan-perusahaan lainnya, seperti  dengan menyediakan stand-stand ditempat lomba, tentu saja disekitar perpustakaan. Disini secar tidak langsung mereka juga melakukan promosi dengan dikenalnya produk mereka, begitu juga dengan perpustakaan.

f. Kerjasama dengan lembaga-lembaga, seperti LSM
Perpustakaan dan pustakawan bisa juga memperluas jaringan kemitraannya dengan lembaga-lembaga, seperti LSM. Contoh kerja sama yang bisa dilakukan adalah kerja sama dalam penelitian, memasyarakatkan budaya baca dan mengajak masyarakat untuk melek informasi, memberantas buta huruf bagi anak-naka putus sekolah dan lain sebagainya.

g. Kerjasama dengan mahasiswa, dosen dan fakultas
Dalam menentukan pengembangan koleksi, pustakawan bisa bekerja sama dengan mehasiswa, dosen dan fakultas, misalnya dengan melihat kebutuhan informasi dari komponen kampus tersebut. Adanya sebagian informasi yang online juga merupakan tantangan bagi perpustakaan dan pustakawan untuk dapat menciptakan alat manajemen yang online, pustakawan bisa meninta masyarakat kampus untuk mengkritisi  sumber-sumber elektronik, seperti E-Journal, E-Resources, E-Book, dan lain-lain.. Kolabolrasi antara perpustakaan dan masyarakat kampus dapat memberikan masukan sangat berharga bagi pustakawan dalam membuat keputusan pembelian sumber informasi yang terbaik.    

  1. Kesimpulan
Untuk saat sekarang, dunia perpustakaan sedang mengalami suatu perubahan paradigma, dari pandangan yang dulu menuju kedunia modern. Sehingga perpustakaan dan pustakawan harus lebih berani melebarkan sayapnya untuk melangkah dengan melihat peluang-peluang yang ada. Karena tidak menutup kemungkinan perpustakaan dalam promosi dan pemasarannya merambah kedunia bisnis.
Dengan mengembangkan sayap kedunia kemitraan, maka secara tidak langsung perpustakaan belajar pemasaran dan bisnis, dengan mempelajari cara-cara bekerja sama, saling memberikan kontribusi dan bisa saling menguntungkan. Dalam kerja sama ini perpustakaan bisa melakukan promosi, pemasaran, dan juga pengembangan, baik koleksi maupun lainnya. Tentu saja tidak meninggalkan prinsip semula dari perpustakaan yang bersifat sosial, yaitu dengan memberikan pelayanan jasa informasi bagi masyarakat.





DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Sulistyo. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Cet-2, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Albrecht, Karl. The Northbound Train. Terjemahan Sularno Ciptowardojo. Perjalanan Bisnis Kereta Senja, Menentukan Tujuan, Menetapkan Arah, Membentuk Nasib Perusahaan.  Jakarta: Halirang, 1996.

Keegan, Warren.  Manajemen Pemasaran Global, Edisi Bahasa Indonesia, Jilid 2. Terjemahan Alexander Sindoro. Jakarta: Perhallindo, 1996.

Alex MA, Kamus Ilmiah Populer Kontemporer. Surabaya: Karya Harapan, 2005.

Supriyanto, Wahyu  dan Muhsin, Ahmad. Tehnologi Informasi Perpustakaan, Strategi Perencanan Perpustakaan Digital. Yogyakarta: Kanisius, 2008.




[1]Wahyu Supriyanto dan Ahmad Muhsin, Tehnologi Informasi,  PerpustakaanStrategi Perncanaan Perpustakaan Difital,  (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm. 145.
[2]Alex MA, Kamus Ilmiah Populer Kontemporer, (Surabaya: Karya Harapan, 2005), hlm. 478.
[3]Warren J. Keegan, Manajemen Pemasaran Global, Edisi Bahasa Indonesia,  Jilid 2, Terjemahan Alexander Sindoro, (Jakarta: Perhallindo, 1996), hlm. 3-4.
[4]Karl Albrecht, The Northbound Train, Terjemahan SularnoCiptowardojo, Perjalanan Bisnis Kereta Senja, Menentukan Tujuan, Menetapkan Arah, Membentuk Nasib Perusahaan, (Jakarta: Halirang, 1996), hlm. 200-201.
[5]Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. 54-55.
[6]Baca Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan, didalamnya diterangkan dengan lengkap cara-cara dan macam-macam  kerja sama antar perpustakaan,  (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. 55-64.